Pemilu
2024 sudah semakin dekat. Saatnya, kita harus memantapkan pilihan. Rekam jejak
Paslon, visi, misi, dan program kerja, perdebatan presiden dan wakil presiden
yang tak jarang syarat akan gimik-sensasional dan minus substansi, dan
lain-lain, setidaknya menjadi modal untuk menilai dan memutuskan secara cerdas,
kritis, dan selektif tentang siapa yang harus kita pilih nanti. Pilihan-pilihan
politis yang kritis dan selektif atas dasar pertimbangan nalar kritis dan hati
nurani akan merepresentasi siapa kita dan apa tujuan kita memilih.
Masa-masa
menjelang pemilu seperti ini seharusnya kita gunakan untuk mempersiapkan diri
dengan kesadaran dan keyakinan akan pentingnya seleksi berdasarkan penilaian
yang benar (Paul Budi Kleden, 2009:140-141). Kita membuat seleksi yang
benar terhadap berbagai kebiasaan kita sebagai warga negara. Kebiasaan yang
tidak menunjang peran kita sebagai warga politis yang aktif, kritis, dan
berprinsip, perlu ditinggalkan, seperti mudah digiring opini dangkal, tertarik
dengan gimik atau hal sensasional, dan acuh tak acuh. Di sini, prapemilu sudah
semestinya menjadi terang dan garam yang bisa memberikan pencerahan sekaligus
rasa kepada masyarakat yang selama ini, secara sadar atau tidak, sudah
dibungkam dan dikelabui nalar kritisnya oleh hoax dan janji-janji ilusi yang
mengawang, namun minus aksi ketika menduduki jabatan strategis dalam
birokrasi.
Dari proses yang berkembang sejauh ini, masyarakat dapat melihat dan menilai setiap kandidat atau kontestan yang benar-benar jujur atau hanya kibul, kandidat yang benar-benar serius memikirkan nasib bangsa atau hanya sekadar memburu kuasa dan kepentingan parsial, kandidat yang mengangkangi demokrasi demi kontestasi, kandidat yang mementingkan elektoral sembari mengabaikan moralitas. Semuanya ini tidak ada yang harus ditutup-tutupi. Apalagi di era surplusnya informasi seperti saat ini, semuanya menjadi lebih terang benderang bagi masyarakat. Dalam kacamata ini, pilihan politis kita sebagai warga negara sangat ditentukan oleh kepiawaian menilai, menyeleksi, mempertimbangkan, kemudian memutuskan secara rasional sepak terjang setiap calon, dan bukan atas faktor eksternal seperti asas primordialisme, kebencian, dan sejenisnya. Kepiawaian menilai secara selektif sebenarnya menunjukkan kualitas kesadaran kita sebagai masyarakat politis sejati.
Kita belum terlambat. Sekali lagi, hari-hari ini menjadi saat-saat paling krusial sekaligus peluang berharga yang dimiliki rakyat untuk melakukan evaluasi dan refleksi kritis atas sikapnya sendiri dalam pemilu pada periode yang lalu. Apakah rakyat sudah berhasil menjadi pemilih yang cerdas, kritis, dan selektif setelah berkaca pada pengalaman selama ini? Itu menjadi PR-nya sekarang.













